Menu
Hacker Room
Informasi
Lifestyle
WebDev
life

Kusta Bukan Penghalang Buat Bekerja!

Kusta adalah suatu penyakit kulit yang memiliki ciri-ciri bercak-bercak putih atau merah, diikuti oleh mati rasa pada bagian tersebut. Penyebabnya adalah infeksi bakteri yang nantinya akan menyerang saraf tepi jika tidak segera ditangani. Saraf-saraf tepi yang diserang ini akan menyebabkan terbentuknya diformitas (kelainan struktur tubuh) sehingga bisa mengganggu motorik, kesulitan untuk menggenggam sesuatu, sensorik menjadi kurang peka, bahkan sampai menyebabkan rungu dan netra.

Kusta merupakan penyakit yang sulit untuk menular. Satu-satunya bentuk penularan kusta adalah sentuhan fisik untuk periode waktu yang sangat lama. Jadi, bukan hanya sekali-dua kali sentuhan fisik langsung tertular kusta. Untuk pengobatannya, jika mengalami gejala atau ciri-ciri terkena kusta, langsung saja mendatangi puskesmas terdekat supaya langsung segera ditangani.

Angga Yanuar

Menurut Pak Angga Yanuar, sebagai manajer proyek inklusi disabilitas NLR Indonesia, Indonesia menempati posisi ketiga terbanyak warga yang mengidap penyakit kusta, setelah negara India dan Brasil. Pada tahun 2000-an, terdapat 20.000 masyarakat Indonesia yang mengidap kusta. Namun, kabar baiknya, pada tahun 2015 hingga hari ini, hanya sekitar 15.000 sampai 17.000 orang yang mengalami kusta. Penyebab turunnya masyarakat yang terkena kusta adalah karena semakin seringnya sosialisasi terhadap penyakit kusta, semakin dijaga kebersihan, dan berbagai faktor lain. Tapi, terdapat 9 provinsi yang masih tinggi jumlah warga yang terkena kusta. Di antaranya adalah di Papua, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Sumatra Barat.

Stigma di Masyarakat terhadap Penyintas Kusta

Di masyarakat yang belum teredukasi dengan baik tentang penyakit kusta, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa orang yang sudah sembuh dari kusta itu seperti orang yang masih mengidap kusta. Hal ini dikarenakan oleh stigma dari orang-orang zaman dulu tentang kusta yaitu:

  • Kusta adalah kutukan
  • Kusta mudah menular
  • Kusta nggak bisa disembuhkan

Sehingga, banyak masyarakat yang menjauhi orang-orang yang mengidap penyakit kusta maupun yang sudah sembuh dari kusta seperti menganggap mereka adalah orang-orang yang menjijikkan. Akhirnya, orang-orang yang memiliki penyakit kusta pun akan menginternalisasikan kepercayaan-kepercayaan itu kepada dirinya sehingga dia akan menjadi rendah diri, mengasingkan diri dari masyarakat, dan nggak menolak jika ditindas oleh orang lain. Bahkan, yang lebih buruknya, jika kepercayaan-kepercayaan itu juga diyakini oleh lingkungan terdekatnya yaitu keluarganya, maka tak ada lagi tempat ia buat survive menghadapi penyakit yang sedang dialaminya itu.

Kemudian, stigma itu juga bisa muncul dari masyarakat dan teman, sebagaimana yang diceritakan oleh Muhammad Arfah, salah seorang pemuda OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta), bahwa ketika ia dulu kelas 3 SMP, dia sering diolok-olok sama teman-temannya hanya karena ia mengidap kusta; kulit yang hitam tapi dengan belang-belang di muka. Teman-temannya menyebutnya sebagai monster, bahkan ada yang menyebutnya dengan roti gosong. Olokan-olokan itu sempat membuatnya minder hingga akhirnya jarang ke sekolah. Akan tetapi, pihak keluarganya senantiasa mendukungnya hingga akhirnya ia bisa survive dan berusaha berobat supaya bisa sembuh dari penyakitnya itu.

Kini, ia sudah sembuh dari penyakitnya dan bisa bekerja dengan orang-orang lainnya.

Muhammad Arfah

Arfah senantiasa memotivasi orang-orang yang mengidap penyakit kusta untuk bisa survive dengan menunjukkan bahwa dirinya bisa sembuh maka orang lain yang mengidap penyakit kusta pun bisa sembuh juga. Jangan sampai takut dengan obat. Kita semua itu sama; baik yang mengalami penyakit kusta maupun yang tidak. Dia juga mau membuka mata dan hatinya untuk mendengarkan curhat dari berbagai penyintas kusta lainnya.

Penyintas Kusta Juga Bisa Bekerja

Bekerja merupakan hak setiap orang. Tak ada satupun yang boleh melarangnya. Bekerja merupakan cara seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya di setiap karya yang dia bentuk dari pekerjaannya. Namun, stigma-stigma di masyarakat tentang penyakit kusta ini sebegitu kuatnya jika tidak ada edukasi tentang penyakit kusta yang sebenarnya:

  • Kusta bukan kutukan
  • Kusta sangat sulit menular
  • Kusta bisa disembuhkan

Oleh karena itu, setiap orang sebaiknya saling membantu untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi penyintas kusta. Sehingga, kita melihat seseorang itu bukan berdasarkan fisiknya, melainkan dari skill yang dia miliki. Tentu bagi perusahaan yang sudah teredukasi dengan baik tentang penyakit kusta ini, tidak memandang mereka dari fisiknya, melainkan dari skillnya. Semua orang itu sama. Bahkan, penyintas kusta juga bisa bergaul dengan orang lain karena nggak ada yang dikhawatirkan dari penyakit kusta yang sudah sembuh itu. Yang penting, perusahaan bisa menyediakan fasilitas-fasilitas yang akan memudahkan orang-orang yang pernah terkena kusta supaya bisa bekerja dengan baik.

Misalnya aja gagang pintu. Gagang pintu yang berbentuk bulat, akan sulit digunakan oleh orang-orang yang mengalami deformitas berupa perubahan di telapak tangan. Kemudian, kalau misalnya di ruang perkantoran itu terdiri dari sekat-sekat antarpegawai, mungkin bisa dilonggarkan sekatnya karena penyintas kusta juga ada yang memiliki masalah dengan motoriknya. Penyediaan bidang miring juga perlu untuk penyintas kusta yang memiliki masalah di motoriknya.

Mengapa perlu banget buat memberikan fasilitas yang layak untuk disabilitas? Karena sudah tertuang di dalam undang-undang 8 tahun 2016 yang menyebutkan bahwa:

Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Maka, jika orang yang tidak mengalami disabilitas diberikan hak untuk bekerja dan mendapatkan fasilitas dari perusahaan yang mendukung pekerjaannya, begitu pula yang seharusnya diberikan kepada disabilitas.

Berdasarkan undang-undang itu juga, minimal 2% dari total formasil yang diberikan untuk ASN (aparatur sipil negara), ditempati oleh disabilitas. Itu adalah bukti keseriusan pemerintah untuk menghilangkan diskriminasi yang diterima oleh disabilitas, salah satunya oleh penyintas kusta.

Selain dukungan dari perusahaan dan pemerintah, dukungan dari organisasi peduli kusta juga sangat mendukung untuk menyiapkan penyintas kusta memasuki dunia kerja. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh NLR yaitu meningkatkan percaya diri dan keterampilan (skill), komunikasi, serta intrapersonal supaya mampu memotivasi dirinya dan kawan-kawannya yang mengalami kusta supaya bisa berbaur di dunia kerja dan bekerja dengan baik.

Berbicara masalah pekerjaan, Pak Angga mengatakan bahwa biasanya penyintas kusta itu mengambil pekerjaan-pekerjaan yang masuknya tanpa seleksi, tanpa memerlukan background akademis, dan tidak bekerja di dalam tim. Nah, dengan adanya NLR itu, Pak Angga mengharapkan bahwa penyintas kusta bisa seperti orang-orang lainnya dalam hal pekerjaan, tidak hanya bekerja dalam sepi, tapi dalam tim yang kompak dan harmonis.

Untuk program magang Juli hingga Agustus 2021, sudah terdapat 21 pelamar di NLR Indonesia, dengan program-program manajemen proyek, penggalangan dana, dan pengelolaan dana. Skill-skill itu sangat penting dalam bekerja bersama tim.

Berbagai Tantangan di Tempat Kerja

Selain tantangan berupa fasilitas sebagaimana yang sudah aku sebutkan di atas tadi, terkadang tantangan juga berasal dari pelanggan, faktor yang berada di luar kendali perusahaan. Pernah ada pelanggan yang menanyakan kepada Zukirah Ilmiana selaku owner PT Anugrah Frozen Food tentang salah satu pegawai yang nampak sebagai penyintas kusta. Maka, Bu Zukirah mengatakan bahwa semua pegawainya adalah sama, tidak ada perbedaan antara orang yang merupakan penyintas kusta maupun yang bukan. Asalkan mereka bisa bekerja dengan baik, maka tidak masalah.

Zukirah Ilmiana

Bahkan, menurut Bu Zukirah, pegawainya yang merupakan penyintas kusta itu mampu menyerap informasi lebih baik daripada pegawainya yang lain. Sehingga ketika ia mengajarkan sesuatu kepadanya, pegawainya itu mampu menerima pelajaran itu dengan lebih cepat.

Itulah ringkasan seminar Memberikan Kesempatan Kerja Bagi Disabilitas dan Orang yang Pernah Mengalami Kusta? Kenapa Tidak, yang diadakan oleh Kantor Berita Radio dalam tajuk Ruang Publik, pada 15 Juni 2021 pukul 09.00 WIB.

Empat

Random Articles

Cara Install Jekyll

Privacy Policy for Catatan Zen

Kaya Itu Hukumnya Wajib!

Disclaimer for Catatan Zen

Untuk Apa Kita Bekerja?

Cari